Jawa Tengah , Suryanews86.com – kemarin sore di Desa Banyumudal, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, terjadi peristiwa menyayat hati: seorang ibu dan dua anaknya yang masih kecil tewas dunia setelah melakukan bunuh diri dengan cara menggantung diri.Sabtu (07/02/2026).
Diduga, peristiwa ini disebabkan oleh himpitan ekonomi yang sangat berat. Korban tidak memiliki makanan untuk sarapan pagi dan bahkan tidak ada beras untuk memasak makanan siang hari.
Akibatnya, sang ibu diketahui kalap hati dan menggantung kedua anaknya, kemudian menyusul sendiri untuk mengakhiri nyawanya.
Tanggapan Budi Rizkiyanto: “Kelaparan Harusnya Tak Ada di Negeri yang memiliki kekayaan alam yang disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto”
Penggiat Kontrol Sosial Sumatera Selatan, Budi Rizkiyanto, menyampaikan rasa prihatinnya yang mendalam terkait kejadian tragis ini.
Menurutnya, masalah kelaparan bukan hanya soal kemanusiaan, tetapi juga menyentuh amanat konstitusional dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
“Peristiwa ini sungguh sangat menyakitkan hati dan patut menjadi perhatian serius bagi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah.
Kita hidup di negara yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Dalam Pembukaan UUD 1945 ayat 3 disebutkan bahwa negara bertujuan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, serta untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,” ucap Budi Rizkiyanto.
Ia menambahkan, hak atas makanan merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin dalam berbagai peraturan. “Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, negara memiliki kewajiban untuk memastikan ketersediaan, aksesibilitas, dan mutu pangan yang cukup bagi seluruh rakyat.
Selain itu, dalam prinsip keadilan dan kesusilaan yang terkandung dalam sila kedua Pancasila, kita diajak untuk saling membantu dan tidak mengabaikan saudara kita yang sedang kesusahan,” jelasnya.
Budi Rizkiyanto menegaskan bahwa kondisi dimana masih terdapat rakyat yang kelaparan hingga menyebabkan tindakan ekstrem seperti ini menunjukkan adanya kelalaian dalam pelaksanaan amanat negara dan tanggung jawab bersama.
“Kita di negeri ini tidak kekurangan orang yang mampu dan memiliki kekayaan berlimpah.
Seharusnya kekayaan yang ada dapat dinikmati secara adil dan merata, sesuai dengan prinsip keadilan sosial yang menjadi landasan negara kita,” katanya.
Ia juga mengemukakan bahwa tanggung jawab untuk mencegah kelaparan tidak hanya berada di pundak pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah mulai dari tingkat kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa/kelurahan.
“Para pejabat seperti kepala dusun, kepala desa/lurah, serta dinas sosial di setiap daerah harus benar-benar menjalankan tugasnya dengan cermat dan teliti dalam mendata masyarakat yang membutuhkan, kemudian mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memberikan bantuan yang diperlukan,” tandasnya.
Budi Rizkiyanto kemudian mengangkat pertanyaan terkait pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan bahwa negara Indonesia kaya akan kekayaan alam dan sumber daya.
“Presiden telah berulang kali menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya, memiliki kekayaan alam yang melimpah dari Sabang hingga Merauke.
Jika memang negara kita kaya, bagaimana bisa terjadi kejadian seperti ini.
Seorang ibu dan dua anak kecil harus kehilangan nyawanya hanya karena tidak mampu untuk mendapatkan sesuap nasi,” ujarnya dengan nada menuntut.
Ia menegaskan perlunya keadilan bagi korban dan seluruh rakyat yang masih hidup dalam kesusahan.
“Kita menuntut keadilan! Karena sesuap nasi saja, nyawa bisa melayang begitu saja.
Bagaimana mungkin negara besar dengan potensi yang luar biasa seperti Indonesia masih memiliki rakyat yang harus merasakan kelaparan hingga titik ekstrem seperti ini.
Ini adalah pertanyaan besar yang harus dijawab oleh seluruh pemimpin dan elemen negara,” tegas Budi Rizkiyanto.
Peristiwa ini juga menjadi panggilan agar para orang mampu dan aghniya segera berperan aktif dalam memberikan bantuan, seperti berzakat, sedekah, dan wakaf kepada tetangga yang dhuafa dan miskin.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat sipil sangat diperlukan untuk membangun sistem yang mampu mengantisipasi dan mengatasi masalah kemiskinan serta kelaparan.
Sebagai contoh, dalam sejarah Islam, Sayyidina Umar bin Khattab saat menjabat sebagai pemimpin di Madinah selalu melakukan sidak malam hari untuk memastikan rakyatnya tidak tidur dalam keadaan lapar.
Ia tidak hanya bergantung pada aparatur pemerintah, tetapi juga aktif terlibat secara langsung dalam memastikan kesejahteraan masyarakatnya.
“Semoga kejadian tragis ini menjadi pelajaran yang mendalam bagi kita semua.
Semoga Allah SWT mengampuni kelalaian kita dan memberikan kekuatan serta ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Mari kita bersama-sama bergerak untuk memastikan bahwa kejadian seperti ini tidak terulang lagi di negeri kita,” ucap salah satu pihak yang merasa prihatin.





